Pages - Menu

Thursday, November 20, 2014

Kesemrawutan dan Pungli Di Sepanjang Jl. Dharmawangsa dan Jl. Nias

Picture 1, Ilustrasi Pungli



Beberapa waktu lalu, kita sempat dibuat takjub dengan keberanian pemerintah kota untuk menutup area lokalisasi Dolly, yakni tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara, Walaupun faktanya tidak seheboh yang diberitakan, mengapa demikian? karena ternyata masih ada yang masih beroprasi, namun dengan kedok berbeda seperti karaoke seperti yang diberitakan oleh media di Jawa Timur. Namun sobat freedom dan Justice, kali ini tulisan ini tidak akan membahas kearah sana, kali ini kita akan coba kritisi keseriusan pemerintah kota dalam hal menangani pungutan liar yang ada di Surabaya.
Punutan Liar atau lebih dikenal Pungli, sudah membudaya di Negeri ini, tidak terkecuali Surabaya. Di Surabaya ini, sudah tentu banyak sekali titik pungli yang aktif, mulai dari yang pinggiran hingga ke instansi pemerintah daerah. Demi memperlancar urusan, sesorang dengan sengaja menyogok petugas, atau karena ekonomi susah, tidak punya pekerjaan, akhirnya melakukan pungli. Tidak tahu pasti kapan ini terjadi, namun pertanyannya adalah mengapa hal ini terus berlanjut tanpa ada perubahan yang signifikan, padahal masyarakat kita masyoritas muslim dan tentu tindakan ini dilarang keras oleh agam. Pungli telah menjadi kebiasaan buruk yang ditoleleri di Negara ini, jadi seolah dianggap wajar dan baik. Kita tidak akan membahas semuanya, karena kalau ditulis membutuhkan waktu yang lama, lebih lebih untuk didengar dan dilaksakan.

Jl. Dharmawangsa 
Bagi kalian yang mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus A dan B Unair, tentu sudah paham dengan yang akan saya bahas ini, atau mungkin yang lain sudah pernah ada yang menulis, atau bahkan sudah ada yang melakukan aksi pelaporan ke pihak yang berwenang, namun okelah, tulisan ini adalah salah satu dari penguat apa yang mereka semua itu nyatakan.

Di Jl. Dharmawangsa, meupakan salah satu jalan pilar yang ada disurabaya, karena jalan ini berada di dekat jantung kota Surabaya yakni, Alun-Alun kota, Kantor Pemkot, Tugu Pahlawan, RS. Dr. Sutomo, PDAM , Stasiun Gubeng, Mall Delta, THR dan Kampus-kampus terkenal ada di Jalan Dharmawangsa ini. Karena banyak tempat bagus, sudah tentu penduduknya banyak dan bervariasi. Namun nampaknya pemerintah kota tidak terlalu memberikan perhatian serius terhadap akses jalan ini. 

Kesemrawutan PKL 
Jalan Dharmawangsa adalah jalan satu arah, dimana terdiri dari dua lajur, dan memiliki trotoar yang bagus di kanan dan kiri jalan. Dikanan kiri jalan mulai dari utara ada Kampus A Unair yang berhadapan dengan RS. Dr. Sutomo, dikanan jalan ada masjid Jendral Sudirman. Jika berjalan Kearah Selatan, disebelah selatan ada Graha merta yang berhadapan dengan Unair Kampus B, sedang dilajur barat ada ruko dan tanah lapang yang bernama lapangan hoki, Sejenak dipagi hari, semua terasa aman-aman saja, Namun Sore jam 17.00 trotoar nampak penuh oleh pedagang yang berjualan di trotoar sehingga membuat trotoar tidak dapat dilewati. Ada cerita yang menarik, di Jalan ini ada salah satu pedangan yang sangat ramai, yakni penjual sate dekat klinik Parahita, hingga sering sekali saya jumpai ada ada mobil diparkir dekat tenda mereka dan memakan hampir separoh jalan, sedang trotoarnya untuk orang makan. Sehingga pemandangan ini sungguh tidak sedap dipandang mata. Kalau peristiwa ini berlangsung 1,2 hari okelah kita bisa maklumi sedikit, namun kalo tiap hari dan sudah bertahun-tahun, sungguh ini tidak wajar. Kemanakah pemkot ini?, apakah bu Risma Triharini salah satu konsumen yang makan disana?, sampai-sampai tidak tahu betapa kacaunya jalan Dharmawangsa ini.

Pungli
Setiap sore ketika pulang dari kantor, saya jalan kaki, dan memperhatikan kanan dan kiri, selain PKL yang banyak, tukang parkirpun sangat banyak, Mereka tidak memiliki seragam dari pemkot, saya fikir ini adalah inisiatif sendiri, namun anehnya juru pakir ini menarif 2000 rupiah/ kendaraan kepada para pengunjung yang sedang makan, kita sebut saja mahasiswa karena kebanyakan yang makan anak muda, pakai jaket Unair. Mahasiswa adalah bukan profesi yang menghasilkan uang, kadang mahasiswa harus ekstra irit untuk dapat menabung, atau sekedar membeli kebutuhan sekolah. Tentu keadaan juru parkir liar ini sangat memberatkan. Silahkan adan banyangkan,  Jadi kalo Mahasiswa makan disepanjang jalan ini 3 kali sehari anda sudah harus menyisihkan 6000 untuk sekedar makan, belum lagi kalo pingin ke warnet atau sekedar ngopi, ya sehari kurang lebih 10.000, kalo sebulan ya kira-kira 200 s/d 300 ribu per orang, Gilaaaaa!!!!, kemana aje pemkot yah kok sampe dibiarkan sejauh ini?, kalo gak dikasih, atau ngasihnya kurang marah juga lo para punglier ini. Ini mungkin dapat ditolerir saat mereka memang benar-benar mengatur lalu lintas dan motor, namun jika merka hanya muncul ketika kita hendak pergi tentu hal ini tidak mengenakkan.

Apakah pemkot sudah melakukan tindakan?
Sejauh ini belum ada yang signifikan, Saya pernah beberapa kali kalo malem kamis, atau pas hari tertentu banyak satpol PP yang yang berjaga di trotoar, namun ya hanya sekedar berjaga saja tidak melakukan tindakan apapun. Sepertinya bu Risma ini hanya doyan pencitraan saya, terkesan galak, main tutup, marah-marah taman diinjak, namun tindakan yang sangat merugikan mahasiswa ini beliau hanya diam saja.

Hal semacam ini terjadi hampir diseluruh Surabaya, tentu ini bukan prestasi namun sebuah aib yang harus dislesaikan. Contohlah Jakarta atau Bojonegoro yang mentertibkan para tukang parkir liar ini, dan memberikan pekerjaan sebagai parkir resmi, mereka pakai seragam lo. Dan Enaknya, orang tidak perlu bayar, jadi yang bayar pemerintah, suasana jadi tertib dan asri.

Jl. Nias
Bicara soal ketidakteraturan pedangan kaki lima, tidak jauh dari Jl. Dharmawangsa ini tepatnya di Jl. Nias baru baru ini telah didirikan banyak sekali service dodok yang didirikan di pinggir jalan, sepanjang rel kereta Api. Jalan nias ini sudah sempit, dua arah, dan sekarang dimakan oleh lahan pebengkel-pembengkel ini, belum lagi disana ada penyebrangan rel, sudah tentu ini adalah salah satu contoh wajah Surabaya dan ketidaksiriusan pemerintah kota dalam mentertibkan warganya.

Jadi jangan heran kalo nanti sobat freedom dan justice ini pergi ke Surabaya, lalu melintasi jalan ini anda akan melihat pemandangan yang tidak enak dipandang mata dan sangat merugikan mahasiswa. Semoga Bur Risma Triharini membaca ini, dan segera melakukan tindakan, Bu banyak sekali tempat di Kota ini yang perlu anda benahi, jangan turun dulu sebelum semua selesai, jangan perlihatkan kegiatan ibu yang tidak produktif, seperti mengambil hadiah pengargaan, itu semua menyakiti kami  []

Popular Posts