Pages - Menu

Sunday, July 14, 2013

Menanti Kehadiran Lailatul Qodar

Kehadiran Lailatul Qadr, menurut sekian banyak hadis Nabi, diharapkan pada malam-malam ganjil pertigaan terkahir dari bulan Ramadhan. Apakah “Malam Qadr” itu dan bagaimana kehadirannya? Qadr berarti “mulia”. Kemuliannya, antara lain, karena turunnya Al-Quran pada malam itu. Qadr juga berarti “pengaturan” karena ketika itu Alloh mengatur khiththah dan strategi Nabi-Nya guna mengajak manusia kepada ajaran yang benar. Qadr juga berarti “ketetapan” karena pada malam itu terjadi ketetapan bagi perjalanan hidup makhluk (manusia).

Tidak kurang orang mengaitkan kehadiran Lailatut Qadr dengan tanda-tanda alamiah. Hal tersebut tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang jelas ialah ketika itu dirasakan oleh yang menemui-adanya kedamainan dan kesejahteraan. Ketika itu turun juga malaikat-sesuatu yang tidak kita ketahui hakikatnya.

Betapapun arti dan hakikat Lailatul Qadr, yang jelas adalah bahwa Nabi menganjurkan umatnya untuk berusaha “menemuinya”. Tentu saja pertemuan dengannya bukan menunggu dengan tidak tidur sepanjang malam, karena jika demikian maka orang-orang yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadiranya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri kepada Alloh sambil menyadari dosa dan kelemahan kita yang harus dilakukan, khususnya sepanjang bulan Ramadhan. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas dan berkesinambungan, akan berbekas didalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian, ketentraman, dan dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seseorang.

Memang, ada saat dalam perjalanan hidup manusia yang dapat menimbulkan kesadaran ruhani yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kehidupannya. Dan benar juga bahwa saat-saat tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu. Tetapi, pada bulan Ramadhan-khususnya pada malam-malam terakhir dimana jiwa telah diasah dan diasuh-pelbagai kemungkinan tersebut bisa menjadi lebih besar. Mungkin itulah sebabnya Nabi saw. menyatakan bahwa kehadirannya terjadi pada malam-malam terkahir bulan Ramadhan.

Apabila kesadaran ruhani telah diperoleh seseorang, maka akan berubah seluruh sikap dan pandangan hidupnya. Ia benar-benar merupakan peletakan batu pertama dari kebajikan sepanjang usianya dan sekaligus ia merupakan “malam penetapan” atau lailatul Qadr bagi kehidupan di alam fana’ dan baqa’. Sejak itu hingga akhir hayatnya, yang dilanjutkan sampai di akhirat, ia akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Ia juga akan merasakan kehadiran malaikat yang, antara lain, berfungsi mengokohkan jiwanya serta membimbing dan mendorongnya untuk melakukan kebajikan-kebajikan serta menghindari pelanggaran-pelanggaran.[]

by: Prof. Quraish Shihab.

Popular Posts