Pages - Menu

Wednesday, June 12, 2013

Syahadat Ucapan dan Syahadat Tindakan

Kalimat syahadat diajarkan kepada kita sejak kecil-sebanyak dua-tiga kali atau berkali-kali hingga kita hafal. Maknanya pun diajarkan, entah berapa kali, hingga akhirnya-sedikit atau banyak-kita memahami maksudnya. Apakah setiap Muslim, sekarang ini, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang tua dan para guru kita di masa silam? Kenyataan sering kali menunjukkan bahwa jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini adalah “tidak”. Karenanya bukan tidak pada tempatnya jika ada saja yang mem­pertanyakan keislaman sebagian generasi muda. Betapa tidak? Kata mereka,” Kita pun yang telah menghafal dan memahami maksudnya masih kehilangan sesuatu yang sangat penting dari kedua kalimat syahadat itu, sehingga seperti inilah keadaan kita.”

Sesungguhnya masih ada satu hal, selain menghafal dan memahami maksdunya, yang tertinggal, yaitu menjadikan apa yang dihafal dan diketahui maksudnya itu sebagai pelita hati yang menyinari setiap langkah dan sikap kita. Perhatikanlah kalimat syahadat yang kita ucapkan: Asyhadu al-la ilaha illa Alloh. Kalimat ini dimulai denga Asyhadu (saya bersaksi). Ketika Anda berkata “saya”, maka Anda menyadari bahwa Anda mempunyai wujud pribadi yang berbeda dengan orang lain. Namun demikian, dalam saat yang sama Anda menyadari pula ada pihak lain bersama Anda, yaitu yang mendengar atau yang padanya Anda memperdengarkan persaksian itu.

Bagaimana kesadaran ini dapat diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku? Apakah guru di sekolah, ayah dan ibu di rumah pernah mengantarkan kita untuk menyadarinya? Ini suatu hal yang ketinggalan. Kesaksian itu dimulai dengan pengingkaran la ilaha (tiada tuhan) kemudian disusul dengan penetapan illa Alloh (kecuali Alloh). Pencari kebenaran akan menemui kebenaran itu bila ia berusaha menyingkirkan terlebih dahulu segala macam ide teori dan data yang tidak benar dari benaknya, persis sperti yang dilakukan oleh pengucap syahadat tersebut.

Adakah cara-cara tersebut diterapkan dalam kehidupan kita? Ataukah cara seprti ini termasuk juga yang ketinggalan dalam pendidikan kita?. Pengucap kalimat syahadat bagaikan meruntuhkan segala kebatilan, namun setalah itu dia tidak tinggal diam. Ia mengkuhkan suatu kebenaran: duri-duri yang mengelilingi sekuntum bunga disingkirkanya dan yang tinggal adalah keindahan dan semerbaknya. Kegelisahan, kecemasan, ketergantungan kepada yang batil semua sirna, dan yang tinggal berbekas adalah ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan.  Tolok ukur menghadapi segala sesuatu akan sama; baik di rumah maupun di kantor, baik terhadap atasan maupun bawahan, baik terhadap si kaya maupun si miskin.

Ada tujuh sifat Alloh yang kita persaksikan keesaan-Nya yang dinamai shifat ijabiyah: Kodrat (Kekuasaan),, Kehendak, Pengetahuan, Hidup, Pendengaran, Penglihatan dan Kalam (Firman). Ketujuh sifat ini juga merupakan kesempurnaan manusia, bila ketujuhnya menyatu secara baik dalam diri seseorang, walaupun harus digarisbawahi bahwa yang sempurna dan mutlak sifatnya hanya Alloh semata. Kekeliruan-bahkan sebab segala akibat negative yang diderita selama ini-adalah kepincangan sifat-sifat tersebut dalam diri kita.

Kita memiliki kehendak, tetapi keinginan dan kehendak kita tidak disesuaikan dengan keampuan kita. Kita dapat berbicara, tetapi pembicaraan kita tidak didukung oleh pengetahuan. Kita mendengar, melihat, tetapi hanya setengah-setengah, sehingga hidup dan kehidupan kita pun demikian.


Benar bukan, bahwa ada yang ketinggalam dalam rangkaian syahadat kita?[]


By: Quraish shihab, Lentera hati

Popular Posts