Pages - Menu

Wednesday, June 12, 2013

Memahami “ Jalan yang Lurus”

Setiap hari paling sedikit 17 kali kaum Muslim bermohon agar diantar menuju “shirat al-mustaqim” yang biasa diterjemahkan dengan “ jalan yang lurus”. Menarik untuk diketahui bahwa dalam bahasa Al-Quran, kata “shirat” berarti “jalan yang lurus”, katakanlah “jalan tol”. Kata ini terambil dari akar kata yang berarti “menelan”. Seakan-akan, karena luasnya, ia menelan pejalan yang lalu lalang di sana. Seorang yang menelusuri jalan tol, bila tidak tersesat, dia akan sampai ke tujuan dengan cepat karena jalan tersebut bebas hambatan.

Al-Quran juga menggunakan istilah “sabil” dalam arti “jalan”. Namun jika diamati, kata ini berbeda dengan shirat-digunakan oleh Al-Quran dalam bentuk tunggal dan jamak serta dirangkaikan dengan sesuai yang menunjuk kepada Tuhan seperti kata “sabilillah” dan “subula Rabbina”, atau juga dirangkaikan dengan hamba-hamba Tuhan yang taat dan yang durhaka (Sabil al-muttaqin dan sabil al-mujrimin). Kalau demikian halnya ternyata banyak “sabil” (banyak jalan). Dan banyak jalan menyebabkkan seseorang harus selalu berhati-hati jangan sampai terjerumus ke jalan yang sesat. Carilah jalan lurus yang tidak berliku agar selamat.

Sekali lagi Al-Quran memberikan petunjuk bahwa yang baik dihimpun oleh suatu ciri, yaitu “kedamaian, ketenteraman, dan ketenangan”. Semua jalan yang bercirikan hal tersebut, pasti bermuara ke jalan yang luas lagi lurus yang dinamai dengan “shirat al-mustaqim”. Allah berfirman: “Dengan Al-Quran Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan (kedamaian) dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju terang benderang dengan seizing-Nya dan mengantar mereka ke jalan yang lurus” (QS5 :16).

Apa makna ini semua? Hemat saya, maknanya adalah pesan Al-Quran untuk tidak bersikap picik, karena banyak jalan menuju “shirat al-mustaqim”. Semua jalan yang bercirikan kedamaian dan keselamatan akan bermuara ke sana. Pesan Al-Quran : Jangan mempersempit shirat, ia dapat menampung semua pejalan, semua aliran, semua pendapat dan mahzab, selama bercirikan as-salam. Jalan menuju surga adalah lebar, siapa pun dapat menelusurinya tanpa terganggu atau mengganggu pejalan yang lain.

Tapi benarkah jalan yang ditawarkan itu luas dan lebar? Bukankah banyak larangan agama yang menghambat lajunya lalu lintas kehidupan sehingga jalan terasa sempit? Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita menjawab secara jujur pertanyaan berikut: Benarkah lampu-lampu lalu lintas menghambat perjalanan seseorang? Benarkah berhenti sejenak mematuhi isyarat lampu merah memperlambat seseorang sampai ke tujuan? Bukankah ketiadaan lampu justru mempersempit jalan dan memperlambat arus?


Agama menuntut kita untuk mematuhi rambu-rambu jalan serta isyarat-isyaratnya, baik yang terdapat dalam perjalanan hidup ke rumah yang kekal di sisi Tuhan. Jalan yang disiapkah adalah jalan yang luas lagi lurus.[]

Popular Posts