Pages - Menu

Thursday, June 13, 2013

Makna Sholat Kita

“Saya sungguh tercengang. Tidak pernah saya melihat sesuatu yang serius lagi pasti, tetapi dianggap remeh seperti tidak akan terjadi, yakni maut. Saya juga tidak melihat sesuatu yang akan ditinggalkan lagi kecil, tetapi diperebutkan seperti yang besar dan kekal, yakni dunia.” Kalimat-kalimat ini adalah ucapan Khalifah Rosul Keempat Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib r.a.

Ucapan yang nadanya sama dengan kandungan yang berbeda, dapat juga dikaitkan dengan shalat: “Saya sungguh bingung dan tercengang menyangkut uraian shalat. Apakah ia merupakan ulangan yang tidak dibutuhkan lagi, mengingat telah lamanya kewajiban ini dikenal umat; ataukah ia merupakan uraian yang sangat dibutuhkan mengingat banyaknya umat yang enggan shalat atau ingin tapi tidak tahu, atau mengerjakan tapi keliru, atau mendirikan dan melaksanankan tapi tak menghayati.”

Pada hari Jumat, masjid-masjid dan kantor-kantor di mana-mana penuh, tetapi keadaan jalan pada saat jam-jam shalat tetap macet. Bukankah sebagian besar yang memadatinya adalah Muslim yang wajib shalat, tetapi enggan melakukanya? Di kereta api jarang sekali terlihat orang yang melakukan shalat, tetapi begitu tiba di stasiun, orang berduyun-duyun untuk melakukan shalat. Apakah mereka tidak tahu bahwa shalat di kereta api diperbolehkan dan menjamaknya dalam perjalanan juga sah? Sementara itu, yang melakukan shalat lain pula keadaanya. Sebagian kita memang berdiri untuk shalat, tetapi tidak melaksanakan shalat.

Kalau Anda memperhatikan perintah shalat dalam Al-Quran, Anda akan menemukan bahwa perintah itu selalu dimulai dengan kata Aqimu (keculi dua ayat, atau bahkan cuma satu ayat). Kata Aqimu biasa diterjemahkan dengan “mendirikan”, meskipun sebenarnya terhemahan tersebut tidak tepat. Karena, seperti kata mufasir Al-Qurthubiy dalam tafsirnya, Aqimu bukan terambil dari kata qama yang berarti “berdiri” tetapi kata itu berarti “bersinambung dan sempurna”. Sehingga perintah tersebut berati”melaksanakannya dengan baik, khusuk dan bersinambung sesuai dengan syarat rukun dan sunahnya.”

Kalau demikian, banyak yang shalat tapi tidak melaksanakanya. Yang shalat dengan sempurna rukun, syarat dan sunnahnya pun tidak sedikit yang tidak menghayati arti dan tujuan shalatnya. Celakalah orang-orang yang shlat, tetapi lalai akan(makna) shalat mereka, yakni mereka yang riya’ dan menghalangi pemberian bantuan (QS 107:4-7)

Mengapa demikian? Shalat berintikan doa, bahwa itulah arti harfiahnya. Doa adalah keinginan yang dimohonkan kepada Alloh SWT. Jika Anda berdoa atau bermohon, maka Anda harus merasakan kelemahan dan kebutuhan Anda di hadapan siapa yang kepadanya Anda bermohon. Hal ini harus dibuktikan dengan ucapan dan sikap. Kalau demikian, wajarkah manusia bermuka dua(riya’) ketika menghadap Alloh? Yang demikian ini tidak menghayati shalatnya lagi lalai dari tujuannya.

Yang melaksanakan shalat adalah mereka yang butuh kepada Alloh serta mendabakan bantuan-Nya. Kalau demikian, wajarkah yang butuh menolak membantu sesamanya yang butuh, apalagi jika memiliki kemampuan? Tidakkah ia mengukur dirinya dan kebutuhannya kepada Alloh? Tidakkah ia mengetahui bahwa Alloh akan membantunya selama ia membantu saudaranya, seperti sabda Nabi saw. ? Kalau demikian, yang enggan member bantuan kepada sesamanya berarti ia lalai akan makna shalat.

Setelah ini, masih perlukah kita tercengang, atau kita akui saja bawa kita butuh uraian tentang shalat, sebagaimana kebutuhan masyarakat kita pada perwujudan makna shalat itu. []


by: prof. Quraish 

Popular Posts