Pages - Menu

Sunday, June 16, 2013

Catatan Harian Seorang Ayah

M. Quraish Shihab
Lentera Hati

Prof. Dr. Zaki Najib Mahmud, Guru Besar Uni-versitas
Kairo dan seorang intelektual Mesir kenama-an, dalam
bukunya Qiyam min Al-Turats mencerita-kan bahwa ia
menemukan - dalam suatu tumpukan buku yang pernah
diserahkan kepadanya - sebuah "Catatan Harian" seorang
ayah yang sedang meng-alami krisis. Sang ayah
mempunyai seorang anak yang bernama Ismail. Dia
sungguh-sungguh men-dambakan sukses anaknya, dan pada
saat yang sama dia juga mengharapkan agar anaknya
tetap memeli-hara etika, norma-norma agama, dan
susila. Sukses mencapai kedudukan terpandang, menurut
penga-matan sang ayah, seringkali melalui pengabaian
nor-ma-norma tersebut. Dari sinilah pangkal krisisnya.

Saya tidak berani menyampaikan hal ini kepada anakku,
saya bimbang apakah saya akan mengajarkan, misalnya,
norma tawadhu' (rendah hati) kepadanya, sedangkan saya
tahu bahwa norma ini seringkali meng-halangi
pencapaian kedudukan terpandang, yang oleh masyarakat
diidentikkan dengan kekuasaan atau ke-
pemimpinan. Salah satu syarat untuk mencapai sukses
tersebut adalah "kemampuan berkurang ajar". ,Jangan
tertawa membaca ini.

Demikian tulis sang ayah yang mengharap pada awal
catatan hariannya agar apa yang ditulisnya ini tidak
dipublikasikan kecuali setelah wafatnya.

Kekurangajaran yang saya maksud sungguh-sung-guh dalam
makna yang sebenarnya. Memang ada saja yang kurang
ajar, tetapi ia keliru menempatkan ke-kurangajaran itu
sehingga ia tergelincir. Tetapi, ada yang tahu
tempatnya, yaitu ia mampu mengatur siasat dan memiliki
kemampuan berkurangajar. Inilah tangga
yang mengantarnya "ke atas':

Ayah yang menulis "Catatan Harian" ini, tam-paknya,
berwawasan cukup luas. Terbukti, antara lain, ketika
ia membandingkan gejolak jiwanya itu dengan diskusi
yang terjadi antara Plato dan teman--temannya tentang
arti "keadilan" dan yang dituang-kan oleh filosof
tersebut dalam buku Republic-nya.

"Apakah keadilan itu?" tanyanya. "Kebenaran ucapan, "
ujar seseorang.
'Pemberian bantuan kepada teman dan bencana kepada
musuh, "sanggah lainnya.
"Keadilan adalah yang memenangkan si kuat," kata yang
lainnya lagi.
"Tidak!"kata Plato, "Keadilan adalah menempat-kan
sesuatu atau seseorang pada tempat yang sesuai."

Sang ayah melanjutkan catatan hariannya se-akan-akan
ia berhadapan dengan putranya.

Jadilah, wahai Ismail, seorang yang kuat, niscaya
engkau akan dinilai adil dalam perbuatan dan
ucap-anmu. Engkau akan dianggap pakar meskipun tanpa
ilmu, sastrawan meskipun tanpa pena Tetapi...
(nam-paknya. pada,saat itu gejolak jiwanya muncul
lagi), tetapi... Tidak. Seribu kali tidak. Mereka yang
demikian itu halnya akan dicari oleh generasi berikut
tapi tidak ditemukan, bahkan mereka tidak akan
disebut-sebut sama sekali.

Bekerjalah, wahai anakku, sekuat kemampuan-mu.
Pilihlah untuk dirimu sendiri suatu misi yang harus
engkau emban, karena kalau tidak, hidupmu akan
sia-sia. Memang, mungkin perjalanan yang engkau tempuh
begitu panjang dan hasil yang kudambakan untuk-mu
belum juga engkau raih. Tetapi yakinlah bahwa dengan
seizin Tuhan, suatu ketika engkau akan memetik buah.
Pahamilah keadilan sebagaimana dipahami oleh Plato.
Sesurrgguhnya Tuhan tidak akan menyia-nyiakan
pekerjaan orang-orang yang berbuat kebajikan.

Apa yang ditulis oleh sang ayah dalam catatan
hariannya ini mungkin dapat dialami oleh setiap ayah
kapan dan di mana pun. Semoga ia mampu melihat dari
alam kubur, bahwa putranya Ismail telah mencapai
sukses dengan cara yang diajarkan-nya ini, karena cara
yang demikianlah yang menjadi-kan seseorang dapat
hidup abadi di dunia ini dan bahagia di akhirat kelak.


Sumber : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/13026

Popular Posts