Pages - Menu

Tuesday, March 19, 2013

Perspektive Konglomerat dalam Partai Politik



 http://panel.mustangcorps.com/admin/fl/upload/files/bendera%20merah%20putih.jpg
Indonesiaku
Aku merindukan kejayaanmu.........
Aku rindu para patriotmu yang jujur dan amanah.....
Aku ingin memelukmu...
Membawamu mengarungi samudra, memimpin dunia ini...
Menju sang Fajar....
Cahaya Ilahi...


Partai politik, telah menandai era demokrasi pancasila di indonesia sejak negeri ini merdeka. Presiden dan wakil presiden dipilih oleh rakyat melalui pemilu yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali. Sejak dulu kala, partai digolongkan menjadi beberapa bagian, secara garis besar ada partai Islam, Nasionalis, dan Sosialis (maksudnya bukan komunis yak, tapi sosial kemasyarakatan). Masing-masing parti memiliki kader, dengan kreteria tertentu. Partai Islam tentu memiliki pandangan "kader yang bagus" yang berbeda dengan Nasionalis maupun Sosiali, yang jelas tentu mereka memberikan pembinaan sehingga kader yang diusung merupakan kader yang siap secara lahir dan batin, yang merupakan representatif dari pemikiran partai. 

Sejak era reformasi, Pemilihan presiden dipilih oleh rakyat secara langsung, hal ini membuat partai politik harus bekerja ekstra keras untuk memperoleh suara dari rakyat. Ada yang merespon secara positif dengan menggunakan cara-cara pisifif terhadap perubahan ini, namun ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan emas, dan menggunakan cara-cara yang kurang bermoral (seperti politik uang) untuk mendapatkan suara dari rakyat.

 http://2.bp.blogspot.com/-Gv9b1rt4WjU/T-KJY_uQGvI/AAAAAAAAAfY/FxVLrmKD3Oc/s1600/DUIT.jpgSimpati dari rakyat sangat penting, untuk memenangkan pemilu, bisa melalui kader yang unggulan, bisa juga menggunakan tolok ukur kinerja dan program yang pro rakyat. Namun hal ini mulai ditinggalkan, karena cara instan (Politik uang) lebih diminati di Negeri ini. Terlebih lagi, masyarakat yang masih belum cerdas, dan sangat kapitalis ("mungkin karena pengaruh penjajahan belanda selama 350 thn), semakin mendukung praktik-praktik politik yang tidak sehat.

Kondisi semacam ini, sedikit banyak memberikan dampak kepada sistem perpolitikan, khususnya perpartaian di Indonesia. Partai harus memiliki dana yang cukup besar untuk pemilu, ya paling tidak harus memberikan sesuatu ("kaos, atau sembako") kepada rakyat, sehingga mereka tertarik untuk memilih, bukan begitu??, iya, tentu saja. Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh konglomerat (orang tajir) untuk terjun ke politik untuk mendapatkan kekuasan (pejabat). Tentu mereka menginginkan simbiosis mutualsime (kerja sama yang saling menguntungkan), meskipun porsinya setiap orang berbeda-beda, ada yang besar ada yang kecil, bahkan sangat kecil atau juga tidak ada tendensi apapun.

Partai politik, sangat senang dengan konglomerat, dimana mereka menjadi sumber dana  bagi kelancaran partai, dan tidak jarang mereka diberikan posisi yang cukup strategis didalam partai, mengalahkan kader-kader lain yang boleh jadi telah lama berkecimpung di dalam partai. Hal ini mungkin bisa diterima, kalau si konglomerat memiliki sesuatu, dalam arti wawasan politik yang luas, integritas, dan kredibelitas yang memadai. Namun hal ini sungguh ironis ketika mereka tidak memiliki hal itu, dan lebih cenderung kepada kekuasaan.

Kecenderungan yang sering muncul, perlahan para konglomerat ini, merasuki partai, dan dalam beberapa tahun mengincar posisi tertinggi partai dan mengingikan kekuasan tertinggi negara, sungguh hal ini membuat jati diri partai politik menjadi hilang sama sekali, dimana tujuan-tujuan utama yang seharusnya lebih fokus kepada rakyat menjadi bergeser.

Ada banyak nama pengusaha di Indonesia yang sekarang menjadi sorotan publik indonesia di bebarpa partai politik, sebut saja Aburizal bakri, Surya Paloh, Jusuf Kalla, Harry Tanoe S. ARB di partai golkar, dizaman orde baru mungkin belum apa-apa, namun kini telah menjadi ketua Umum dan siap untuk meramaikan bursa Calon presiden Indonesia. Surya Paloh (Bos Media Group) dari Nasional demokrat, sebuah ormas pecahan dari golkar, Ada Hari Tanoe S. pimpinan MNC group, yang sebelumnya dari partai Nasdem lalu pindah ke partai Hanura, dan masih banyak yang lainya.

Para pengusaha ini, mengawali start yang sungguh fantastis karena nilai tawar mereka kepada partai jauh melampoi anggota reguler, yang boleh jadi lebih produktif. Hal ini bisa dimaklumi ketika sang konglomerat memiliki wawasan, dan nasionalisme yang mumpuni, sehingga mampu bersaing tidak hanya di kancah lokal tetapi juga di kancah international. Karena mereka ketika menang akan menjadi pemimpin, dan ketika mewakili Indonesia di kacah internasional tentu harus disandingkan dengan banyak sekali pemimpin, bukan?, iya, tentu saja kita tidak ingin malu memiliki pemimpin yang tidak bisa berbuat apa-apa. Start yang fantastis inilah yang sering kali dikesempingkan, sehingga kredibelitas partai menjadi tidak sedap dipandang lagi.

Partai Politik, sebisa mungkin harus membuat suatu regulasi, dan standar kepartaian yang mengikat seorang pengusaha yang ingin berpolik, ya paling tidak penyamaan persepsi secara mendasar harus kuat. Di negeri ini, sepertinya konglomerat dengan sangat mudah menjadi kutu loncat dan membidangi politik, hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, tentu harus ada alasan-alasan politik, kalau perlu diadakan mediasi antara internal partai dan masyarakat tentu saja. Jangan hanya mengabil jalan pintas, untuk mendapatkan fasilitas dengan dana-dana mereka, karena efek negatif pasti ada.

Apa perlu di adu, dengan kader partai yang lain (binaan), yang lebih kontributif?, ya tentu saja perlu dilakukan, demi kesolitan partai, jangan sampai terjadi konflik internal yang berbuntut pada perpecahan yang marak terjadi di partai politik baru -baru ini. Sekarang Hari tanoe misalnya, waktu masuk ke Nasdem langsung menjadi Staf Ahli,,kemudaian keluar masuk ke Hanura, tiba-tiba iklannya sudah berganti saja di beberapa stasiun TV swasta, hal ini tidak lucu dan sangat tidak etis secara perspektive politik. Dimana kader hasil binaan partai yang lain, apakah hanya itu yang mereka mampu lakukan??,,sungguh tidak konsisten.

Penyakit uang dan kekuasaan telah begitu lama menyerang negeri ini, masyarakat yang bobrok, para elite politik dan hukum yang tidak peduli semakin menampah daftar panjang kerusakan negeri, entah obat apa yang perlu didatangkan untuk negeri yang sedang koma ini. Para pemuda negeri, semoga kita bisa memperbaiknya,,paling tidak untuk diri kita masing-masing..kita doakan semoga para pemimpin bangsa kedepan semakin berkwalitas, semakin nasionalis, dan pro terhadap kebaikan (tidak rakyat, karena kalo rakyat bobrok ya susah di prokan).

FIN >,<





Popular Posts