Pages - Menu

Wednesday, September 26, 2012

Bagaimanakah IMAN itu?



Iman merupakan nikmat Tuhan yang sulit untuk digambarkan, diceritakan lebih-lebih ditularkan kepada orang lain. Kenikmatan iman hanya dapat dirasakan oleh pemilik iman itu sendiri. Iman juga tidak selalu muncul pada diri seseorang yang memilki banyak pengetahuan, karena pengetahuan yang luas itu hanya berfungsi mempercepat memperoleh keimanan itu. Boleh jadi orang yang sedikit tahu, lebih beriman dari pada orang yang banyak mengetahu sesuatu. Satu hal yang jelas para pakar sepakat bahwa Iman itu pembenaran oleh hati, bukan pembenaran oleh Akal, karena di dalam hati, kita dapat mersakan dua hal berbeda benci sekaligus cinta disaat yang bersamaan, tetapi tidak dengan akal, dia (akal) hanya bisa menempatkan satu hal pada waktu tertentu. Hal ini lah yang membuat para pakar menyetujui bahwa iman adalah pembenaran oleh hati, bukan pembenaran oleh akal. 

Pernah dalam sebuah syair lagu diaktakan, bahwa iman tidak dapat diwarisi meskipun dari seorang ayah yang bertaqwa, dia tidak diperjualbeli. Iman adalah sebuah matiara yang meyakini bahwa Alloh itu Esa, Alloh itu Maha Kuasa, dan menghamba kepadanya, kata bait lagu itu lebih jauh. Meskipun engkau hendak melintasi lautan api, dan mendaki gunung yang tinggi, Iman tidak dapat dimiliki,  Jika tidak kembali pada Alloh, demikian sebut syair lagu itu mengenai iman. 

Salah satu hadist dan riwayat yang menjelaskan iman yakni tentang dialog singkat antara nabi Muhammad dengan malaikat Jibril…
Ketika itu nabi sedang berkumpul dengan para sahabat untuk bertausyiah, kemudian Jibril yang bewujud manusia tiba-tiba datang, Kemudia bertanya kepada nabi,"Wahai Rosullulloh, apa itu iman?",
Kemudian Nabi menjawab, "Iman Kepada Alloh, Iman kepada Malaikat Alloh, Iman Kepada Kitab-Kitab Alloh, Iman Kepada Rosul Alloh, Iman kepada Hari Kiamat, Iman Kepada Takdir Alloh",
"Ya benar...",
Aahabatpun tercengah, siapa gerangan orang yang bertanya kepada nabi? mengapa dia bertanya dan membenarkanya, seolah dia sedang menguji Nabi.
Lalu Jibril pun melanjutkannya, "Apa itu Islam wahai Rosul?",
"Islam adalah mengucap dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa dibulan romadhon, dan pergi haji kebaitulloh."
"Ya betul nabi", sahut jibril.
Para sahabat semakin heran dan bertanya-tanya siapa dia. Kemudian Jibril bertanya kembali, "Wahai Nabi apa itu ikhsan?",
Nabi pun menjawab, "Ikhsan adalah beribadah sungguh-sungguh seolah engkau melihat-Nya, dan bila engkau tidak bisa maka anggap seolah Alloh melihatmu... maka engkau akan meraih ikhsan",
:Iya betul ya Rasul".
Selesai bertanya orang itu pun pergi. Para sahabat yang terheran-heran mengenai siapa orang itu, mengapa dia bertanya kepada Nabi kemudian dia mebenarkanya, seolah sedang menguji nabi?,
 Kemudian salah satu sahabatpun memberanikan diri bertanya, "Ya nabi siapa orang itu gerang? mengapa dia bertanya kepadamu kemudian membenarkanya, seolah sedang mengujimu??",
Nabi pun menjawab, "Dia adalah Jibril, dia hendak mengajarkan kepada kita mengenai Iman, Islam dan Ikhsan."

Demikian riwayat yang pernah diceritakan, kendati hal-hal menyangkut Iman telah dijawab oleh nabi, tetepi Definisi Iman sendiri masih sangat sulit diungkapkan….

Sementara para pakar menggambarkan definisi Iman seperti, seseorang yang terdampar ditengah samudra, kemudan ia mendayung perahu kecil di tengah samudra yang luas itu, dia sangat berharap segera menemukan daratan, dengan sekuat tenaga terus mendayung seperti melihat sebuah pulau kecil menanti didepanya. Namun pada saat yang sama  seseorang itu khawatir, takut, cemas kalau-kalau dia tidak dapat mencapai pulau harapan,  demikian lah Iman…

Seseorang yang beriman senantiasa berusaha mencapai tujuannya, terus memperbaiki dirinya, kendati ada perasaan khawatir yang mendalam kalau-kalau ia tidak sampai, dan tenggelam seperti si pendayung perahu di samudra tadi. Suatu hal yang wajar khawatir, dengan keimanan kita pernah juga diriwayatkan tentang kisah nabi Musa dan kekhawatirnya…


Nabi musa pernah meminta kepada Alloh, "Wahai tuhanku tunjukkanlah padaku caramu menghidupkan burung yang mati ini."  
Kemudian Alloh menjadwab,” Apakah kamu tidak beriman?”,
"Sungguh tidak, hanya supaya aku lebih tenang."
Demikianlah dialog singkat Nabi Musa dengan Alloh.


walloh wa'lam bissawab.




Popular Posts